Anak Tukang Bakso Sebulan Koma
Kamis, 26 Maret 2009 - 14:27 WIB
JAKARTA (Pos Kota) – Lukman Dwi Ardiansyah mematung di ranjang ruangan anak kamar 6 Bougenville Bawah RS Persahabatan, Selasa (24/3) siang. Di sebelahnya, sang ibu, terus menemani bocah tiga tahun tujuh bulan yang koma sejak 12 Februari lalu itu.
Meski tak ada respon sama sekali, Watonah, 28, setia berada di sisi bungsu dari dua anaknya itu. Sesekali ia menyanyi, bercerita atau mengajak bicara Lukman. Katanya, membedakan Lukman dalam keadaan tidur atau terjaga hanya dilihat dari matanya. “Kalau matanya bergerak-gerak berarti ia tak tidur,” jelas Watonah.
Penderitaan yang dialami Lukman bermula saat ia sakit panas empat hari di rumah kontrakan di Kp. Pengarengan RT 01/12 Kel. Jatinegara, Cakung. Watonah membawanya ke Puskesmas Klender. “Ia juga diperiksa darahnya. Kata dokter, Lukman sakit thypus,” ungkapnya.
Melihat sakit Lukman belum juga sembuh, ia bersama Rohim, 30, suaminya, membawanya ke RS Persahabatan. Namun, di ruang IGD rumah sakit itu sang anak kejang-kejang. “Selanjutnya, anak saya tak pernah sadarkan diri,” jelasnya.
Dokter mengatakan Lukman menderita radang otak dan komplikasi penyakit lain. Bocah itu harus dirawat di ruang ICU, namun uang muka Rp10 juta berikut biaya harian yang bisa mencapat jutaan rupiah membuat pasangan Rohim-Watonah bingung.
“Kami tak punya uang sebanyak itu,” jelas wanita yang berhenti dari tempat kerjanya di sebuah perusahaan garmen karena anaknya sakit. “Suami saya hanya tukang bakso keliling, sehari cuma dapat Rp 50.000.”
Surat keterangan tidak mampu (SKTM) dan Kartu Gakin (keluarga miskin) lalu diajukannya ke rumah sakit, namun ternyata tak berlaku bagi pasien ICU. Lukman tetap dirawat di ruangan anak kelas tiga.
DINKES: BISA DI ICU
Keluarga ini mesti membayar Rp 500.000 sebagai uang kontribusi Surat Jaminan Rawat Inap Pasien Miskin rumah sakit yang telah memberi keringanan pada Lukman. Surat tersebut berlaku hanya untuk satu kali perawatan.
“Setiap kali memperpanjang harus bayar Rp 500.000,” ungkapnya. “Jika tak bayar anak saya bisa tak dapat obat.”
Drg. Reni, Kepala Humas RS Persahabatan, mengaku belum mengetahui jenis penyakit dan kasus Lukman tersebut. Alasannya, ia sedang mengikuti pelatihan tertentu. Mengenai kemungkinan perawatan di ruang ICU bagi pasien dengan kartu Gakin dan uang kontribusi, menurut Reni, ada peraturannya. “Memang ada obat yang bisa diganti dengan Kartu Gakin tetapi ada pula yang tak bisa,” jelasnya.
Tini Suryantini, Kepala Humas Dinas Kesehatan DKI, mengatakan pasien dengan kartu Gakin akan mendapat pergantian sepenuhnya sedangkan pasien dengan SKTM tak mendapat pergantian penuh. Namun jika ada verivikasi dan terbukti miskin maka ia akan mendapat perawatan yang sama dengan pasien Gakin. “Jika memang miskin mestinya pasien berhak mendapat perawatan, termasuk di ruang ICU,” ujarnya.
(yuli/ird)
Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id




Copyright © 2010 · All Rights Reserved · 