Apa Kabar Lubang Biopori?

Rabu, 21 Oktober 2009 - 0:11 WIB

| More

JAKARTA (Pos Kota) – Dana sebesar Rp5,2 miliar untuk pengadaan alat pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) yang dibeli melalui dana Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (PPMK) dinilai mubazir.

Pasalnya kegiatan yang digalang Pemprov DKI sebagai salah satu langkah alternatif meminimalisir genangan air tersebut tidak  efektif tanpa adanya pembinaan dan sosialisasi kepada masyarakat yang optimal.

Menurut Amir Hamzah, Ketua Metropolitan Cabin for Watch and Empowerment, yang menilai proyek pembelian alat tersebut hanya menguntungkan sekelompok orang saja.

Hal itu diungkapkan Amir terlihat dari kurang seriusnya pemprov dalam hal ini Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup daerah (BPLHD) DKI membina warga baik di tingkat kelurahan, RW dan RT dalam membuat biopori tersebut.

“Melalui dana PPMK masyarakat kelurahan wajib menyisihkan dana tersebut untuk pembelian 100 unit alat LRB. Namun kenyataannya hingga kini jumlah LRB masih jauh dari ideal,” tandas Amir, Selasa (20/10).

Dana sebesar Rp5,2 miliar tersebut merupakan perhitungan dari jumlah kelurahan yang ada di DKI yakni  267 kelurahan. Setiap kelurahan wajib membeli minimal sebanyak 100 unit alat bor LRB dengan harga sekitar Rp195 ribu setiap unitnya.

Secara terpisah, Tuty Mulianty, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM), Perempuan dan Kelurga Berencana (KB), menerangkan pengadaan alat tersebut dilakukan pada 2008.

Dalam pelaksanaannya dari pencairan dana PPMK yang diperoleh, setiap kelurahan diwajibkan untuk menyisihkan anggaran untuk pembelian 100 unit alat.

Sedangkan mengenai pembinaan, diungkapkan Tuty hal itu dilakukan melalui mitra instansinya di tingkat kelurahan, RT, dam RW. “Pelatihan dan pembinaan LRB langsung dilakukan oleh PKK maupun organisasi kemasyarakatan di lingkungan warga,” ujar Tuti.

Sedangkan Rusman, Kepala Bidang Pelestarian dan Tata Lingkungan BPLHD DKI, mengaku hingga saat ini LRB yang ada masih jauh dari ideal. Diterangkan Rusman, dengan luas wilayah Jakarta saat ini idealnya terdapat 70 juta LRB. “Saat ini LRB yang ada hanya baru sekitar 1 juta lubang resapan,” ujar Rusman.

Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 – 30 cm dan kedalaman sekitar 100 cm, atau dalam kasus tanah dengan permukaan air tanah dangkal, tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah . Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori.

Sementara biopori adalah pori-pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman . (guruh/B)

Bookmark and Share

Baca Juga

  • No Related Post
Komentar Terkini (Belum ada Komentar). Kirim komentar anda disini

Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id