Lagi, ‘Pemilu BBM’ Dimenangkan Minyak Tanah
Jumat, 30 Juli 2010 - 8:37 WIB
BOGOR (Pos Kota) – Pemilihan Umum (Pemilu) tahap ke-2 minyak tanah versus gas setelah Jakarta beberapa waktu lalu yang digelar sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kampung Malang Nengah, RT 03/02, Desa Ciseeng, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, pada Rabu (28/7) siang kemarin, ternyata minyak tanah menang mutlak.
Dari 329 warga pemilih yang hadir, sebanyak 320 orang memilih minyak tanah, sedangkan sisanya 9 orang memilih gas. Pemilu digelar di halaman rumah Abdul Majid, salah seorang warga kampung tersebut.
Pemilihan tetap bertahan pada gas elpiji atau beralih ke minyak tanah ini dimulai pukul 10:00 WIB hingga pukul 12:00 WIB. Usai perhitungan, dan warga mengetahui, ternyata minyak tanah menang, warga lalu beramai-ramai membuang tabung gas berukuran 3 kilogram ke kali.
Menurut Dadang, Sekretaris Kabinet Bendera Bogor, kegiatan tersebut dilakukan sebagai dampak dari banyaknya kejadian ledakan tabung gas subsidi yang melukai bahkan menewaskan warga.
“Terakhir kejadian di Kalapanunggal dan Gunung Bunder, Kabupaten Bogor. Kami dari teman-teman Bendera mencoba memediasi dan menguji dengan Pemili minyak tanah dan gas ini. Ternyata minyak tanah lebih di pilih warga ketimbang gas. Ini kemenangan kedua kalinya setelah Jakarta beberapa waktu lalu,” kata Dadang saat dikonfirmasi.
Ditambahkan, Pemilu Migas ini dilakukan layaknya pemilu pilkada. Ada kandidat dan ada pemilihnya. Jumlah kandidat, katanya, ada dua orang yakni satu kandidat dari minyak tanah dan satu kandidat gas. Sementara itu, pemilihnya adalah warga sekitar yang kami undang.
“Kami undang warga, tapi tidak memakai undangan. Hanya dari mulut ke mulut saja. Tapi respon dari masyarakat sangat tinggi. Yang kami undang ada 400 warga, tapi yang datang hanya 329 orang,”paparnya.
Hasil dari Pemilu Migas tersebut, menurut Dadang, ternyata warga Bogor lebih memilih minyak tanah. Dadang mengatakan, kegiatan tersebut akan terus dilakukan pihaknya ke beberapa daerah lain yang selama ini sering terjadi ledakan gas namun tidak ada respon baik pemerintah.
“Pemilu berikutnya akan kita lakukan di Cianjur dan Sukabumi. Sekali lagi aksi ini hanya sebagai sarana untuk menyampaikan keluhan kepada pemerintah. Kita akan merekomendasikan pemerintah harus merespon ini yakni kembali minyak tanah,” ujarnya.
Tugas pemerintah harus memberikan pilihan pada rakyat, biar rakyat yang memilih mau gas atau minyak tanah. Selama ini warga dipaksa untuk menggunakan gas.Mestinya pemerintah menyediakan gas juga minyak tanah.
Sementara itu, usai pemilihan, warga langsung mengejar kandidat gas yang langsung lari setelah penghitungan suara berakhir. Selain memukuli kandidat gas, warga juga menceburkannya ke kali.
“Peristiwa itu hanya simbolis saja. Kemenangan minyak tanah adalah pilihan rakyat. Dan sebagai penolakan warga terhadap gas, mereka tadi melempar tabung-tabung gas 3 kilogram ke kali,”tandas Dadang.
Warga mengatakan, sebelum pemilu gas Vs minyak tanah di gelar, pihaknya sudah beralih ke kayu bakar dan minyak tanah. Alasannya, resiko kayu bakar dan minyak tanah jauh lebih kecil ketimbang gas.
“Kami nggak mau lagi pakai gas. Nyawa kami selalu dalam bahaya. Pokoknya kami takut jadi korban, atas sejumlah kejadian di Bogor dan daerah lainnya,” tutur Mumun, salah seorang warga.(yopi/B)
Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id




Copyright © 2010 · All Rights Reserved · 