Ical : Jangan Ancam Saya
Kamis, 11 Februari 2010 - 6:25 WIB
JAKARTA (Pos Kota) – Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie alias Ical, menyatakan tidak takut diancam dan tidak akan mengubah pendirian Golkar dalam mengungkap fakta kasus Bank Century. “Partai Golkar tidak pernah mengancam siapa pun. Tapi, jangan coba-coba mengancam saya. Mau ditembak mati pun, kami tidak akan mundur,” kata Ical, Rabu (10/2).
Dalam pertemuan di ruang rapat FPG DPR itu, Ical tampak unjuk kekuatan. Selain mengumpulkan tiga menteri dari Golkar juga mengundang lima gubernur dari partai ini. Para menteri itu adalah Menko Kesra Agung Laksono, Memperin MS Hidayat, dan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhamad.
Aburizal tidak peduli kalau kasus penunggakan pajak perusahaannya sebesar Rp 2,1 triliun dibawa ke pengadilan oleh Dirjen Pajak. Ical tidak menganggap ini sebagai ancaman pada dirinya dan Golkar. “Masalah pajak itu urusan pribadi, urusan perusahaan, bukan urusan partai. Jadi tidak bisa dikait-kaitkan dengan Pansus Angket Century,” kata Ical.
HAK PRESIDEN
Ia juga menegaskan, kalau Presiden ternyata mereshuffle menteri-menteri dari Golkar, ia melihat itu hak prerogatif presiden. Dalam Pansus Angket, pihaknya tidak akan berubah pikiran, tetap akan mengungkap kebenaran.
Dijelaskannya, dengan ancaman reshuffle yang diajukan Demokrat, dianggapnya melanggar etika koalisi, sebab selama ini Golkar berkoalisi dengan SBY, bukan dengan Demokrat. “Kebetulan Golkar dan PD sama-sama berkoalisi dengan SBY. Demokrat harus menghargai perbedaan yang kami miliki,” katanya.
Setelah pertemuan, Sekjen Golkar Idrus Marham menyatakan, pertemuan para petinggi Golkar itu untuk koordinasi partai dari pusat sampai daerah. Khusus untuk peran Golkar Pansus Angket Century, menurutnya, untuk membuat pemerintahan koalisi sebagai pemerintahan bersih. “Jadi Golkar mendukung koalisi guna menciptakan pemerintahan yang bersih,” katanya.
Di sisi lain, Ketua DPP Golkar, Priyo Budi Santoso, menyatakan dalam pertemuan itu menghasilkan tiga opsi. Pertama, Golkar tetap bersama pemerintahan SBY sampai 2014. Kedua, Golkar punya pendapat sendiri dalam Pansus, dan di situ terjadi beberapa kemungkinan. “Ketiga, kalau terjadi kemungkinan terburuk Presiden melakukan reshuffle, menteri-menteri dari Golkar harus mengikuti garis kebijakan partai,” kata Priyo. Tapi, ia tidak ingin ini terjadi.
Sejauh ini, lanjutnya, ternyata Aburizal dan SBY makin sering berkomunikasi. Golkar juga tidak berniat memakzulkan Presiden, dan sampai saat ini belum berniat memanggil Presiden ke Pansus.
JUAL KUE
Sementara itu, kemarin Pansus Angket mempertemukan pihak nasabah korban Bank Century, manajemen Bank Mutiara (Century), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan petinggi BUMN.
Sri Gayatri, nasabah asal Surabaya dengan dana tabungan Rp 2 milyar lebih kembali beraksi. Di depan ruang rapat Pansus ia berjualan kue, dan kue-kuenya dinamai istilah-istilah dalam Pansus.
Dalam ruang rapat, ia pun meluapkan kemarahannya dan melakukan aksi-aksi konyol seperti berjoged-joged di hadapan sidang, lalu mendatangi deretan pimpinan Bank Mutiara yang dipimpin Dirut Maryono. Ia menuduh Maryono pembohong, karena menyatakan data dirinya tidak tercatat di Bank Muatiara.
Maryono sendiri menyatakan, manajemen bank lama, tidak mencantumkan nama-nama nasabah Antaboga, termasuk Sri Gayatri dan nama-nama nasabah lainnya.
(winoto/us/o)
Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id




Copyright © 2010 · All Rights Reserved · 