Warga Bantaran Ciliwung Setujuh Direlokasi
Sabtu, 12 Desember 2009 - 11:23 WIB
MANGGARAI ( Pos Kota)- Warga bantaran Kali Ciliwung tidak keberatan direlokasi. Itu program bagus asalkan terpenuhi persyaratan.
Seperti diungkapkan sejumlah warga di RT 13/04 Kelurahan Manggarai yang berjumlah 55-an KK bahwa pemindahan tidaklah gratis, meski mereka menyadari menempati tahan negara. “Kalau mau pindahin kami dari sini, boleh-boleh aja. Tapi harus ada ganti rugi (uang kerohiman red.) dong! Minimal Rp300 ribu per meter persegi. Kalau kurang dari jumlah itu tentu saja kami tidak setuju,” kata Lilis, warga RT 13/04 saat ditemui Pos Kota, baru – baru ini.
Supardi,50, asal Tegal, Jawa Tengah juga berpendapat sama. Bapak empat anak ini mengaku sudah lima tahun tinggal di hunian padat penduduk, mengontrak rumah petakan ukuran 2×3 M2 dengan tarif Rp300 ribu/bulan. Pemulung ini mengaku penghasilan sehari Rp25 ribu – Rp30 ribu/hari. “Setiap hari saya bisa menabung bersih Rp5 ribu, lumayanlah buat nambahin bayar sewa kontrak,” ujarnya lirih.
Lilis dan Supardi serta warga lainnya selain mengharap uang kerohiman, juga minta harga sewa rusunami terjangkau. “Rusunami harus dibangun di Kelurahan Manggarai. Kalau jauh dari sini, kami ogah ah,” cetus mereka.
GANTI UNTUNG
Warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung Kampung Melayu, Jaktim, juga setuju tinggal di rusunami. “Saya sih setuju, asal jangan rusun sewa karena kehidupan kita juga pas-pasan. Kalau masih tinggal di sini, kan tidak meraba-raba lagi untuk meneruskan usaha yang sudah ada,” kata Hermansah Abas,50, warga RT 012/01.
“Itu program bagus, sayang pemerintah sampai saat ini belum melakukan sosialisasi. Harusnya secepatnya sehingga warga bisa melihat kenyataannya. Sebab, kalau cuma wacana, warga malah akan berbalik antipati terhadap program pemerintah,” tegas Edi Pattinama,59, Ketua RT 04/06 Kampung Melayu.
Sutrisno, 62, Ketua RW 04 juga setuju direlokasi, asal di pembangunan rusunami di bekas tanah warga setempat. Lain halnya dengan Ny.Ratna, 32, warga RT 012/01 lebih memilih uang ganti untung. “Ngeri ah tinggal di rumah susun, apalagi punya anak kecil. Biasa tinggal di rumah yang rata dengan tanah, nggak terlalu capek harus naik-turun,” ucapnya.
BELUM SOSIALISASI
Camat Jatinegara, Jaktim, Andri menjelaskan konsep relokasi bukanlah memindahkan warga ke lokasi lain. “Rusunami dibangun di atas tanah warga yang telah dibebaskan. Tapi kita belum berani sosialisasi, masih menunggu kepastian pembangunannya. Kita harapkan bisa secepatnya.”
Kata Andri, yang selalu terendam banjir jika musim hujan di Kel.Kampung Melayu ada 7.983 jiwa dari 2.022 KK. Jika dilihat dari wilayahnya terdapat 7 dari 8 RW yang selalu terendam banjir atau ada sekitar 58 RT.
Di Kel.Bidara Cina yang terendam banjir 6 RW dari 16 RW yang ada, meliputi 20 RT dari 188 RT. Dengan jumlah jiwa 2.688 orang dari 800 KK.
Menurutnya, sebagian besar di bantaran kali merupakan tanah garapan/tanah negara. Meski ada juga tanah eigendom verponding, maupun bersertifikat. Semuanya tentu harus dibuktikan. Melalui rusunami, pemerintah berupaya mengangkat harkat dan martabat warga. “Tidak ada lagi kesan kumuh dan memprihatinkan karena menjadi tontotan warga lainnya saat banjir.” (rachmi/endang/B)
Redaksi: redaksi[at]poskota.co.id
Jl. Gajah Mada 100, Jakarta Tel. (021) 6334702, Fax: (021) 6348968
Email: iklan[at]poskota.co.id




Copyright © 2010 · All Rights Reserved · 